Sabtu, 30 September 2017

Pesan dalam bait
        Andaikan kau datang kembali
        Jawaban apa yang kan ku beri
        Adakah jalan yang kutemui
Untuk kita kembali lagi
 Merdu suara Ruth Sahanaya terdengar melengking di sekitar ruangan. Kemudian menyusul lengkingan suara gadis berambung keriting gantung itu. Gadis cantik itu sedari tadi hanya menyanyi di depan laptop miliknya, membuat video cover yang menampilkan rambutnya yang hitam dan terawat.
"Fa, Aufa!" Teriak seorang perempuan dari dalam kamar yang letaknya tidak jauh dari ruangan tempat gadis itu duduk. "Aufa kecilkan mp3 lagunya," ucapnya lagi.
Aufa menyentuh gambar volume pada layar laptopnya. Ia mengecilkan musik tersebut. Gadis itu kini mengambil gitar berwarna cokelat yang berada tepat di sebelahnya. Perlahan jemarinya yang lentik pun memetik senar pada gitar tersebut. Jarinya yang lain memainkan kunci alat musik itu. Dan... seperti biasa suara gadis itu kembali terdengar melantunkan kata kata indah.
"Assalamualaikum." Suara lelaki bertubuh besar itu terdengar dari pintu rumah itu. Lelaki dengan rambut yang hanya tinggal separuh itu memasuki rumah bergaya pop art tersebut. Ia pun mendudukkan tubuhnya pada sofa berwarna merah itu. Ia duduk di samping gadis itu.
Aufa menghentikan permainan gitarnya. "Pa, dari mana?" Tanyanya menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya Papa lagi di belakang ya sedang kasih makan ikan."
Laki-laki dengan rambut yang hampir botak itu menghela napas. Ia menggelengkan kepala. "Fa, kamu tanya Papa dari mana? Kamu, Papa keluar aja nggak tahu." Ia tertawa kecil. Bola matanya yang kini tampak mengecil itu kini menatap mata anaknya tersebut. Sebuah tatapan khawatir yang tersembunyi.
Merasa diperhatikan seperti itu, ia berdeham. "Pa, kok lihat aku seperti itu?" Tanya Aufa menyelidik.
"Papa hanya khawatir sama kamu."
Aufa mengerutkan keningnya. Membuat kadua alisnya beradu. "Maksud Papa?" Gadis itu masih saja bertanya.
"Hah sudah lupakan," ucap Papa. Ia mengalihkan tatapannya pada rambut keriting gantung yang kini menjadi style putri semata wayangnya. "Rambutmu Fa, kapan mau ditutupi jilbab?"
Gadis itu mengangkat sebelah pundaknya. "Jilbab Pa? Yah nanti aja deh. Lagian kalau jadi penyanyi itu kan nggak laku kalau berjilbab," jawab gadis itu sekenanya.
"Jadi penyanyi itu nggak baik Fa." Mama menimpali. Perempuan yang mengenakan hijab ala angel lelga itu kini sudah berada di ruangan. "Sayang Fa kalau suara kamu yang bagus itu untuk menjadi penyanyi. Lebih baik mengaji," ujar perempuan itu.
Aufa terdiam. Gadis itu terpojok. Ia menghela napas. "Ehm, mengaji ya Ma. Oiya Ma, nanti sore aja ya. Aku banyak tugas nih." Gadis itu mencari alasan. Wajahnya ia pasang menjadi sibuk. Aufa pun meninggalkan ruangan itu. "Ya Ma, nanti saja," ucapnya seraya berjalan ke arah kamarnya.
* * *
Aufa menarik selimutnya. Ia memejamkan mata. Namun berkali-kali rasanya bola matanya belum ingin beristirahat. Berbagai cara ia lakukan tetapi tetap saja gadis itu belum bisa tidur.
"Mungkin...." gumamnya. Ia menghela napas. Pikirannya memutar kembali obrolan tadi siang.
"Apa yang salah? Memang nggak boleh ya kalau aku berpenampilan seperti ini. Rambut aku kan bagus, bahkan banyak yang bilang ini rambut barbie. Kenapa juga harus ditutupi. Penyanyi nggak bagus, lebih baik mengaji. Hah Mama dan Papa nggak pernah mengerti." Aufa bergumam seorang diri. Ia mendengus kesal. "Naya, aku mau curhat." Gadis itu memejamkan mata. Menunggu matahari terbit dengan pikiran yang masih menggantung.
* * *
"Fa, kamu kenapa semalam nggak mengaji? Padahal Mama tunggu kamu loh di ruang keluarga." Mama membuka obrolan di sela sarapan.
Bola mata Aufa terlihat membesar. "Oiya Ma, maaf Aufa lupa," ucapnya spontan. Ia terdiam sejenak. "Ehm, semalam sehabis belajar aku ketiduran." Gadis itu mencari alasan.
Mama menatap selidik dalam tatapannya yang hangat. "Yaudah nggak apa kalau kamu ketiduran. Yang penting kamu nggak bohong." Celetuk perempuan itu, seolah ia mengetahui bahwa putrinya tersebut sedang berbohong.
"Uhuk." Mendengar ucapan Mama, seketika gadis itu terbatuk. Ia terdiam sebentar melirik wajah Mama dan Papa yang merasa heran. Dengan gerakan gugup ia mengalihkan perhatian. "Ma, Pa Aufa sudah telat." Ia menghabiskan potongan sandwich yang ada di tangannya. Kemudian meneguk segelas susu dan bergegas meninggalkan meja makan itu.
* * *
Hari ini pikiran Aufa kacau. Ia berjalan malas di taman sekolah. Ia mendengus kesal. "Huh, apaan sih Naya bikin bt aja," gumamnya. Gadis berseragam putih abu itu berkacal pinggang.
"Aufa kalau menurut aku, kamu itu nggak salah kok. Kalau kamu belum siap berjilbab ya nggak usah dipaksain. Terus sekarang Fa, kamu nggak boleh jadi penyanyi yang jelas lebih bisa menghasilkan uang. Ngapain sih ngaji, toh cuma buat akhirat aja. Hallo Fa, kita masih lama loh perjalanannya. Kalau hanya memikirkan akhirat terus kita mau kelaperan gitu." Remaja itu mendengus. Kemudian melanjutkan ucapannya. "Payah nih ortu kamu Fa. Harusnya ortu kamu ngertiin posisi kamu sebagai anak muda. Ortu kamu nggak gaul Fa." Gadis itu terus saja berkomentar dengan pandangannya.
Ya, Naya si gadis SMA yang masih duduk di kelas sepuluh. Ia memang tipe anak yang agak bebas, keras kepala, dan tidak mau kalah. Buktinya saja hari ini Aufa yang semula berniat curhat kepada Naya malah Naya tak memberi kesempatan pada temannya tersebut untuk sekedar menyampaikan uneg-unegnya tanpa dikomentari. Tapi sayang Naya kalau sudah berbicara terus saja seperti tidak ada rem. Naya memang selalu begitu.
Aufa melangkah pelan diatas rerumputan taman sekolah. Ia menarik napas dalam sembari mengitarkan pandangannya. Namun tatapan itu terhenti pada seseorang di sana. Gadis yang tengah duduk di atas rumput dengan teduhan dahan pohon. Gadis berjilbab dengan kaca mata yang selalu ia kenakan dan buku yang sedang ia baca.
Aufa menghampiri remaja itu. Tak tahu angin apa yang menuntunnya duduk mendekati gadis berkaca mata tersebut. Padahal, biasanya ia tidak pernah mau berbicara dengan siswi yang ia rasa cupu itu. Tetapi kali ini ia sadar, bahwa temannya bukan hanya Naya seorang. Ia bisa curhat pada gadis itu juga. Aufa membutuhkan pendapatnya yang bijak.
"Hai Nina, aku boleh duduk di sini," ucap Aufa seraya ikut duduk di sebelah siswi berkaca mata itu.
"Tentu boleh dong," jawab Nina. Ia melempar senyum kepada Aufa kemudian kembali menyibukkan diri dengan membaca.
"Nin," panggil Aufa pelan.
"Iya ada apa Fa?" Tanya siswi itu. Ia memperhatikan wajah Aufa yang murung. "Kamu ada masalah Fa? Kamu bisa cerita kok sama aku." Nina kembali menerbitkan senyum.
Aufa menghela napas. "Jadi gini Nin, menurut kamu kenapa perempuan itu harus berjilbab, dan kenapa ada yang bilang kalau perempuan itu nggak bagus jadi penyanyi?" Tanya Aufa pelan.
"Ya menurutku memang mengenakan hijab, jilbab atau kerudung adalah kewajiban bagi wanita setelah baligh. Karna kalau wajib itu kan harus, kalau nggak mengikuti perintah itu ya berdosa. Rambut kan aurat wanita. Hmm, kalau soal penyanyi, sebetulnya suara wanita itu aurat. Jadi wanita dalam agama nggak boleh bernyanyi khususnya lagu cinta. Mungkin kalau lagu sholawat atau qosidah bisa." Jelas Nina kepada temannya yang duduk di sebelahnya itu.
Cewek berpotongan rambut keriting itu tampak mengerutkan kening. "Terus gimana dengan mengaji?" Tanya Aufa yang masih penasaran.
"Mengaji itu ibadah, jelas mendapat pahala. Dengan mengaji, bacaan itu akan menjadi teman manusia di alam kubur kelak. Sedangkan menyanyi hanya kata-kata sia-sia," jawab Nina bersemangat.
Aufa hanya mengohkan mendengar jawaban siswi berjilbab itu. Ia tersentak. Tiba-tiba ia teringat pada ucapan Mama dan Papa. Benar kata kedua orangtuanya. Ia menatap Nina yang sudah kembali dalam kesibukannya membaca buku. Suasana hening. Aufa memasang earphone berwarna pink di telinganya.
Gadis yang duduk di sebelahnya itu memperhatikan temannya yang asyik mendengarkan mp3 di handphonenya. Ia menyiku temannya pelan. "Serius banget Fa, kamu lagi denger apa sih?"
"Ini lagu lama yang di cover ulang Noah. Judulnya Andaikan kau datang kembali," ucap Aufa dengan senyum yang mulai terlukis di wajahnya.
"Oh."
"Oh?" Aufa mengerutkan kening. "Kamu tahu lagu ini Nin?" Tanya gadis itu.
"Kamu tahu lagu ini tentang apa?" Alih-alih menjawab pertanyaan, gadis itu malah balik bertanya.
"Tentang seseorang yang pacarnya pergi meninggalkan dia," jawab Aufa yang sangat hafal lagu kesukaannya tersebut.
"Kalau menurutku, lagu ini ada pesan religinya. Menceritakan tentang kehidupan dunia yang perlahan pergi meninggalkan dan kembali kepada kehidupan di akhirat," tutur siswi tersebut. Ia menatap Aufa yang tampak berpikir.
"Hah, maksudnya?" Tanya Aufa.
Terlalu indah dilupakan.
Terlalu sedih dikenangkan.
Setelah aku jauh berjalan.
Dan kau kutinggalkan.
(Allah Swt yang sering terlupakan).

Betapa hatiku bersedih.
Mengenang kasih dan sayangmu.
(Allah Swt).
Setulus pesanmu kepadaku.
Engkau kan menunggu.
(Di Padang Mahsyar).

Andaikan kau datang kembali.
Jawaban apa yang kan ku beri.
(Mengutus malaikat di dalam kubur. Saat menanyai iman dan amal saleh di dunia).

Adakah cara yang kau temui.
(Takdir Allah)
Untuk kita
(Makhluk)
Kembali lagi
(Andaikan dapat hidup kembali di dunia menebus kesalahan)

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintaNya.
Bersinarlah terus sampai nanti.
(Hidayah dan ampunan Allah).

Lagu ini ku akhiri.
(Menghadap khusnul khotimah).

Aufa merenung mendengar penuturan gadis berkaca mata itu. Ia terhenyak. Pikirannya melayang mengingat semua ceramah yang selalu orangtuanya ucapkan. Selama ini ia menganggap kedua orangtuanya cerewet terlalu banyak berkomentar. Padahal semua dilakukan untuk menuntun putrinya menjadi gadis yang soleha.
"Fa, hidup hanya sekali. Tidak bisa terulang kembali. Jadi, semoga di perjalanan hidup yang singkat ini kita bisa memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada Allah." Nina kembali menasehati. Ia menatap wajah temannya yang kini tampak sedih.
Perlahan air mata Aufa menetes dari sudut matanya. Hati Aufa terasa sedih.
* * *
Perempuan berwajah penyayang itu menatap putri semata wayangnya. Di sebelahnya tampak lelaki yang rambutnya hampir habis itu turut menatap wajah gadis yang kini tertutup dengan kerudung sederhana berwarna putih.
"Fa, ada apa? Kamu mau bicara apa?" Tanya Mama membuka obrolan di tengah keheningan tersebut.
Sudah beberapa menit mereka hanya bertatap dalam diam. Katanya putrinya itu ingin bicara pada kedua orangtuanya. Namun anehnya Aufa malah terdiam dengan tatapan menerawang dan mata yang agak sembap. Ia, Aufa gadis itu termenung mengingat kesalahan yang ia lakukan selama ini. Remaja itu terus mengingat percakapan kemarin dengan salah seorang temannya.
Ya, apa salahnya jika Mama dan Papanya menginginkan yang terbaik untuk Aufa. Putri semata wayangnya. Dan inilah alasan Papa menyuruhnya mengenakan hijab? Agar ia tidak berdosa mengumbar aurat. Dan inilah alasan Mama memaksanya mengaji? Agar ia mendapat cahaya dan teman di alam akhirat nanti. Kenapa selama ini ia menuruti egonya tanpa mau memperdulikan perkataan terbaik itu.
"Ma, Pa maafkan Aufa ya."
"Iya sayang," jawab Mama seraya mengelus pipi gadis itu.
"Maaf jika selama ini, aku nggak ikutin perintah Mama Papa." Aufa menghela napas. "Ma, aku mau berubah," ucap gadis yang kini sudah mengenakan kerudung.
"Fa, anggap yang kemarin sebagai pelajaran."
Aufa memandang wajah perempuan pahlawan hidupnya itu. "Ma, Aufa mau mengaji Ma," pintanya sambil menatap bola mata Mama.
Mama terlihat mengangguk. "Fa, Mama bangga punya anak seperti kamu Nak. Mama akan mengajarkan mengaji setiap ba'da isya dan juga Aufa bisa ikut pengajian remaja yang rutin di adakan di masjid dekat rumah."
Aufa mengembangkan senyum manisnya. "Makasih Ma. Kapan aku bisa ikut pengajian remaja masjid Ma?" Aufa bertanya penuh semangat.
"Besok sayang," ucap perempuan itu disertai senyuman lega sudah berhasil menuntun anaknya ke jalan yang lebih baik.
"Alhamdulillah," Aufa merasa bahagia. Sungguh bahagia.
Terimakasih Ma, Pa sudah menuntun setiap anaknya menjadi anak yang soleh dan soleha. Sungguh perhatian yang tidak bisa terbayar.
Pagi itu, ruangan tempat mereka berkumpul terasa sangat hangat. Aufa memeluk kedua orangtuanya tersebut.

Author : Ine Dwi S
Cerpen sederhana

Jumat, 28 Juli 2017

Pemuda Islam dan Tantangan Generasi
Oleh : Ine Dwi S

                Islam, tentu semua orang sudah mengenal agama Islam. Agama Islam merupakan salah satu dari lima agama yang diakui di Indonesia. Agama Islam masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke tujuh dan dibawa oleh para pedagang dari India, Gujarat, Persia dan Arab, yang kemudian dilanjutkan penyebarannya oleh para wali sanga hingga agama Islam tersebar hampir ke seluruh tanah air kecuali daerah Ternate. Dengan penyebaran yang begitu luas, membuat agama Islam menjadi agama terbesar di Indonesia.
            Menurut hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, tercatat sebanyak 207.176.162 pemeluk agama Islam di Indonesia. Provinsi dengan penduduk muslim terbanyak berada di Jawa Barat sekitar 41.763.592 jiwa. Namun di wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih relatif sedikit muslim. Jika dihitung persentase dari rata-rata persentase penganut Islam di setiap provinsi akan terdapat 87,18% jumlah penduduk muslim dari total penduduk Indonesia. Jumlah penduduk muslim tersebut, tentunya terdapat anak-anak, pelajar, pemuda, orang dewasa, sampai orangtua.
            Sejarah mengingatkan, pemuda memiliki peranan penting terhadap tanah air ini. Bagaimana tidak, pemuda Indonesia turut membela tanah air dengan sekuat tenaga, bahkan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melawan para penjajah. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Dari perlawanan di berbagai wilayah menggunakan senjata tradisional dan membuat gugur banyak pahlawan, hingga lahirnya pergerakan nasional organisasi pemuda bangsa. Bermula dari organisasi modern Budi Utomo yang didirikan oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 dengan pendiri Sutomo, Suraji, dan Gunawan Mangunkusumo. Kemudian Indische Partij yang didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E Dowes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Disusul Sarekat Islam didirikan di Solo tahun 1911 oleh Haji Samanhudi. Juga ada PNI yang didirikan oleh Ir. Soekarno, Mr. Sartono, Mr. Sunaryo. Ada juga pergerakan kaum wanita oleh Raden Ajeng Kartini. Gerakan Pemuda Kedaerahan seperti Tri Koro Darmo, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamiten Bond, PPI, dan PI. Semua organisasi tersebut merupakan bukti sikap patriotisme pemuda Indonesia kepada tanah air tercinta.
            Pada saat ini, kenyataan tersebut seperti bertolak belakang dengan fakta yang terjadi. Bukannya membuat prestasi dan mengharumkan nama bangsa, tetapi malah menghancurkan nama bangsa. Hanya segelintir pemuda yang dapat menorehkan prestasi kepada bangsa. Tetapi yang lain, kebanyakan dari mereka merusak dirinya sendiri. Mereka melupakan tentang perjuangan para pemuda dahulu yang mati-matian mempertahankan Indonesia. Padahal pahlawan mengharap generasi penerus dapat hidup damai, sejahtera di negeri sendiri. Namun faktanya generasi muda sedang dijajah oleh perubahan zaman yang membuat sebagian pemuda melakukan penyimpangan. Perbuatan tersebut bermacam-macam, ada corat-coret, tawuran, minum-minuman keras, berjudi, seks bebas, narkoba, hingga teror bom. Perbuatan tersebut yang dilakukan oleh sebagian kaum muda, merusak bangsa. Jika tidak diberantas secara serius, ini akan berakibat fatal bagi generasi penerus. Ini merupakan tantangan generasi muda khususnya pemuda Islam untuk memperbaiki dan membuat Indonesia menjadi lebih baik.
            Mencorat-coret sembarangan. Di Indonesia banyak terjadi perilaku menyimpang tersebut. perbuatan ini dinamakan Vandalisme, yaitu perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Objek Vandalisme ini adalah berbagai fasilitas umum, seperti dinding, jalan, jembatan, halte, angkutan umum, tiang listrik, pohon, sampai papan reklame, itu semua menjadi tempat coretan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya fasilitas umum menjadi rusak, dan hal ini mengganggu pemandangan dengan tulisan tidak jelas yang pelaku buat, juga gambar tidak senonoh. Perilaku merusak yang seperti sudah menjadi kebiasaan bahkan terbawa hingga ke luar negeri. Menurut berita yang ditulis Detik Travel, aksi Vandalisme yang diduga dilakukan orang Indonesia di Jepang, Cina.. Di Gunung Fuji Jepang ditemukan graffiti oranye bertuliskan ‘Cla-X Indonesia.’ Diduga pelakunya berasal dari Klaten dengan alasan kata Cla-X itu dibaca Klaten. Di tembok besar Cina ditemukan tulisan ‘2010-09-05’ dibawahnya ada kata Indonesia dan Samarinda. Perbuatan turis Indonesia tersebut membuat malu Negara. Indonesia dengan pemeluk Islam 87,18% yang dengan jelas agama Islam mencintai kebersihan. Umat Islam malah tidak menjalankan perintah itu. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang taubat dan menyucikan diri” dan hadis “Kebersihan sebagian dari iman”. Mendengar perintah itu, sudah seharusnya pemuda Islam menjaga kebersihan. Ini merupakan tantangan generasi muda Islam untuk tidak terlibat vandalism dan mengajak generasi penerus untuk cinta kebersihan.
            Tantangan generasi muda selanjutnya adalah memberantas tawuran antara pelajar. Banyak pelajar sekolah menengah di Indonesia yang saat ini terlibat dalam perkelahian. Berawal dari iseng meledek sekolah lain, kemudian berlanjut pada kekerasan. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak, merilis jumlah tawuran pelajar tahun 2012 sebanyak 147 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang. Menurut berita yang ditulis oleh Detik News, kasus tawuran pelajar di kota Yogyakarta pada tahun 2016 mengalami peningkatan. Jumlah kasus tawuran pelajar di daerah Yogyakarta sebanyak 43 kasus. Padahal, kota Yogyakarta adalah kota pelajar yang seharusnya pelajarnya mengharumkan nama kota bukan hanya soal tawuran saja. Di Indonesia kasus bullying juga terjadi di sekolah pada tahun 2015, LSM Plan International dan International Center for Research on Woman (IRCW) melakukan riset terkait bullying. Hasilnya, terdapat 84% anak di Indonesia mengalami bullying di Sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Negara lain di kawasan Asia. Allah swt berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” Seharusnya kejadian tawuran dan bullying tersebut tidak terjadi di Negara Indonesia. Apabila para kaum muda memahami ayat Allah swt, karena pertengkaran dapat memutuskan tali persaudaraan.
            Berjudi dan mabuk. Perilaku tersebut masih sering terjadi di Indonesia. Padahal para pelaku yang bermain judi sudah dikenakan Tindak Pidana KUHP Pasal 303 dengan pidana penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh lima juta rupiah. Mabuk-mabukan, perilaku ini seperti tidak ada habisnya. Banyak miras oplosan dijual secara bebas. Kasus miras oplosan yang memakan korban terus terjadi. Menurut berita yang ditulis realita.co, tercatat sejak tahun 2015 hingga awal tahun 2016 sudah 308 orang tewas akibat menenggak minuman tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun oleh komunitas masyarakat Indonesia mencatat, tahun 2015 sudah ada 302 korban meninggal, ditambah tanggal 3 Januari 2016 di Semarang, terdapat 2 orang tewas akibat miras oplosan. Kejadian sudah banyak, tetapi orang masih tidak takut dengan apa yang akan terjadi setelah minum miras oplosan. Padahal Allah melarang dengan jelas dilarang meminum sesuatu yang memabukkan. Q.S Al-Maidah ayat 90 menjelaskan “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Dengan membaca ayat tersebut, diharapkan umat Islam tidak ada lagi yang terjerumus kepada perbuatan berjudi dan mabuk. Ini adalah tantangan generasi muda untuk tidak terjerumus kedalam perbuatan demikian.
            Tantangan kaum muda selanjutnya yaitu memberantas narkoba. Narkoba seperti tidak ada berhenti. Semakin hari, narkoba terus merajalela. Narkoba menyentuh orang tua, dewasa, remaja, hingga anak-anak. Berbagai cara dilakukan pengedar, contohnya memasukkan narkoba ke dalam permen. Akhirnya mereka akan ketagihan dan terus memakai. Narkoba itu membahayakan, merusak kehidupan, merugikan diri sendiri serta orang lain. Sepanjang tahun 2016, BNN telah mengungkap 807 kasus narkotika. Sebanyak 1.238 orang telah berstatus tersangka dan dibekuk petugas. Diantaranya WNA 21 orang dan WNI 1.217 orang. Q.S Al-Baqarah ayat 195 yang artinya. “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Jadi sudah seharusnya generasi muda Islam turut serta memberantas narkoba.
            Berzina. Perbuatan ini sudah sangat jelas dilarang dalam Al-Qur’an. Hukumnya adalah dosa besar. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S Al-Israa ayat 32) dan Q.S Al-Furqon ayat 68, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” Perzinaan semakin marak di kalangan anak muda. Data pada tahun 2010, ada 80% remaja putri Ponorogo pernah melakukan  hubungan seks pra nikah. Sementara itu, 51% para remaja Jabotabek tidak perawan. LSCK PUSBIH merilis angka mencapai 97,05% para mahasiswi kota Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Komisi Nasional Perlindungan Anak juga merilis data hasil survei di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007, sekitar 62,7% remaja SMP pernah berhubungan intim dan 21,2% siswi SMA pernah menggugurkan kandungannya. Miris sekali mendengar fakta tersebut.
            Tantangan bagi generasi ,muda yang terakhir dan terbesar bagi pemuda Islam adalah memberantas terorisme. Belakangan ini Indonesia dikejutkan dengan seorang pembawa bom yang merupakan perempuan. Bagaimana bisa perempuan yang memiliki hati lebih lembut dari pria dapat masuk dalam kelompok teroris. Dengan menggunakan istilah ‘jihad’ serta janji akan meninggal khusnul khatimah dan mendapat surga di sisi Allah. Sesungguhnya pemikiran tersebut salah. Membawa bom lalu meledakkannya, lalu ratusan nyawa melayang. Sementara pembawa bom akan mendapat surga? Itu salah besar. Bagaimana mungkin mendapatkan surga jika membunuh orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Para teroris meledakkan bom di masyarakat yang tidak mengucilkan agama Islam. Mereka meledakkan bom di Negara yang masih menghormati pemeluk Islam. Padahal umat Islam di Negara lain masih dihormati, masih ada tempat untuk shalat, masih ada restaurant halal. Namun akal licik jaringan teroris mengatasnamakan Islam. Mereka sengaja mencuci otak agar orang mau masuk dalam jaringan tersebut. Mereka sengaja menghancurkan umat Islam dari dalam. Untuk itu, umat Islam diharapkan berhati-hati terhadap ajakan yang menjurus kepada teroris. Ingat bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah memerangi lebih dahulu kaum kafir. Nabi berperang karena mereka yang memulai dahulu dan pasukan berada dalam bahaya. Hukuman bagi pelaku teroris adalah hukuman mati. Lalu jika dihukum mati, bagaimana nasib keluarga pelaku? Siapa yang akan menafkahi? Bukankah itu sama saja bunuh diri, merusak diri sendiri dan orang lain. Sedangkan semua umat Islam tahu bahwa bunuh diri dan merusak diri termasuk perbuatan dosa. Bukan surga yang didapat tetapi neraka yang didapat. Jadi sudah jelas bahwa terorisme itu dilarang dalam Islam.
            Para pemuda Islam Indonesia. Buka mata, buka hati. Sudah banyak sekali kekacauan yang ditimbulkan oleh pemuda. Seharusnya para pemuda adalah pembawa perubahan. Mengharumkan nama bangsa. Mengingat lagi sejarah, pemuda memiliki andil besar dalam kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 26-28 Oktober 1928, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) berkumpul di Jakarta dan dikenal dengan Kongres Pemuda II Indonesia. Dalam Kongres tersebut, wakil-wakil pemuda Indonesia menyatakan ikrar kebulatan tekad yang terkenal dengan  nama Sumpah Pemmuda. Selain itu, peristiwa kemerdekaan Indonesia dapat berlangsung karena kaum muda. Saat itu, ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, kemudian berita tersebut tersebar di kalangan para pemuda Indonesia. Pemuda menganggap bahwa ini adalah moment tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Walaupun Soekarno dan Moh. Hatta menolak, hingga membuat keduanya diasingkan ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 dini hari. Singkat cerita, pada akhirnya Soekarno dan Moh. Hatta menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dan pada tanggal 17 Agustus 1945 pembacaan proklamasi dilaksanakan di depan kediaman Soekarno, dengan pengibaran bendera sang saka merah putih yang diiringi lagu ‘Indonesia Raya’. Keberhasilan proklamasi tidak luput dari peran kaum muda seperti Chairul Saleh, Muwardi, Sukarni, Jusuf Kunto, Wikana, Darwis, Sutan Sjahrir, dan masih banyak lagi. Para pemuda memang memiliki peran penting dalam keberhasilan suatu bangsa.
            Dalam suatu pidato, Bung Karno mengatakan, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Menteri pemuda dan olahraga RI, Imam Nahrawi menyampaikan amanatnya pada upacara hari Sumpah Pemuda ke 88, bahwa “Bung Karno tidak perlu menunggu bonus demograf untuk bisa memberikan kehormatan yang layak bagi bangsa dan Negaranya. Bung Karno hanya membutuhkan pemuda-pemudi unggul yang memiliki kualitas dan visi yang besar dalam menatap dunia.”
            Begitu pentingnya peran pemuda dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Karena itu sudah seharusnya generasi muda melanjutkan perjuangan pahlawan sebelumnya. Bukan berjuang membawa senjata tradisional seperti dalam sejarah, melainkan berjuang melawan dan memberantas perilaku dan kejahatan yang merugikan tanah air. Sebagai generasi muda Islam seharusnya sadar bahwa tantangan generasi muda saat ini sangat banyak. Sudah kewajiban pemuda dapat membawa nama Indonesia unggul di mata dunia. Karena dengan seperti itulah sikap patriotisme tumbuh dalam generasi emas anak bangsa.

            
Menulis menentukan perubahan
               
Dalam aktivitas sehari-hari masyarakat sudah akrab dengan kegiatan menulis. Menulis sendiri telah dimulai sejak kanak-kanak, dan terus berlangsung hingga masa tua. Sewaktu belajar di TK, anak akan belajar memegang pensil yang benar, kemudian belajar menggoreskannya di kertas. Ketika memasuki sekolah dasar sampai perguruan tinggi, murid serta mahasiswa tidak ada hari tanpa menulis, baik menggunakan pena maupun dengan bantuan komputer. Begitu juga ketika beranjak ke dunia kerja dan hari tua, manusia tidak pernah lepas dari kegiatan tersebut.
                 Setiap peserta didik dilatih untuk menulis bukan tanpa suatu alasan, melainkan karena kegiatan menulis sangat penting. Jika membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan, maka menulis demikian sama pentingnya dengan membaca. Dengan menulis, maka kita dapat membuka gerbang peradaban yang lebih maju. Tulisan memiliki peranan dalam perkembangan suatu bangsa.
            Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis diartikan sebagai membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya). Menulis juga dapat diartikan melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Sementara menurut Hargrove dan Pottet dalam Abdurrahman (1998: 239) mengemukakan bahwa menulis merupakan penggambaran visual tentang pikiran, perasaan, dan ide dengan menggunakan simbol-simbol sistem bahasa penulisannya untuk keperluan komunikasi atau mencatat.
            Kegiatan menulis memiliki keterkaitan yang erat antara masa lampau dengan masa depan. Flashback ke zaman pra sejarah, ketika manusia belum mengenal huruf dan budaya tulis menulis. Namun sebenarnya manusia sudah memiliki budaya melukis di dinding gua. Gambar tersebut berisi sekumpulan informasi yang sengaja dibuat sebagai memori kejadian. Lukisan-lukisan itu bermanfaat sebagai informasi kepada keturunannya dan sebagai bahan pembelajaran bagi generasi saat ini.
            Selanjutnya memasuki zaman sejarah, yaitu manusia sudah mengenal huruf dan budaya menulis. Indonesia memasuki zaman sejarah ketika kerajaan kutai mulai berdiri yaitu abad ke 4 masehi. Bukti sejarah menemukan yupa atau tugu batu yang tertulis dengan menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Dengan budaya menulis itu, saat ini kita dapat meneliti ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah.
            Melintasi sejarah Islam terutama dalam bidang menulis, kitab suci Al-Qur’an juga memiliki sejarahnya sendiri. Nabi membacakan wahyu yang turun, kemudian para hafidz menghafal setiap ayat tersebut, juga menuliskannya di pelepah kurma, batu, batang kayu dan sebagainya. Ketika masuk pemerintahan Abu Bakar di zaman khalifah, Umar Bin Khatab mengusulkan ide untuk membukukan mushaf Al-Qur’an dikarenakan berbagai factor salah satunya karena banyaknya hafidz yang telah meninggal dunia dan dikhawatirkan ayat Al-Qur’an akan tercecer. Singkat kata, begitu penting menulis sampai akhirnya kita dapat ikut merasakan manfaat dari tulisan tersebut.
            Sebuah kalimat mutiara dari Ali Bin Abi Thalib tentang tulisan yaitu “Semua penulis akan meninggal hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” Tulisan ini mengingatkan kita tentang pentingnya menulis. Bahkan karya itu akan terus hidup dan akan terus bermanfaat kepada siapa yang membacanya.
            Bicara menulis memiliki peranan bagi perkembangan suatu bangsa, hal tersebut benar. Dinasti Abbasiyah menaruh saham besar pada perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masanya, dibangun sebuah perpustakan besar bernama Bait Al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dan perpustakaan terbesar. Penerjemahan buku asing digalakkan seperti buku filsafat Yunani. Sehingga dinasti ini mampu berkuasa hingga lima ratus tahun.
            Membuka mata pada masa era modern, fakta yang terjadi adalah Negara Jepang mampu menerbitkan 60.000 judul buku. Sementara, Inggris jauh lebih besar berada pada angka 110.155 judul buku per tahun. Dengan  budaya menulis yang tinggi terbukti Negara-negara maju tersebut menjadi Negara kuat yang penduduknya memiliki tingkat intelektual tinggi, kesejahteraan serta kemajuan bangsanya dan dapat mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi mendatang.
            Sementara mengkutip tulisan dari Ulfa Nur Zuhra dalam salah satu artikelnya, menurut catatan terakhir Negara Indonesia hanya mampu menerbitkan 8000 judul buku. Sedangkan Vietnam menerbitkan 15.000 judul buku. Bahkan menurut artikel yang ditulis oleh Ruslan Burhani, minat ilmuwan di Indonesia dalam menulis jurnal ilmiah masih rendah jika dibandingkan dengan Negara lain. Berdasarkan data dari Scientific American Survey (1994) menunjukkan kontribusi tahunan Scientist dan Scholars Indonesia pada pengetahuan sains, dan teknologi hanya 0,012 persen. Sementara Singapore mencapai 0,179 persen jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) angka yang dicapai sebanyak 20 persen. Begitu rendahnya minat menulis di Indonesia.
            Akhirnya berdasarkan fakta yang terjadi, dapat disimpulkan bahwa menulis itu sangat penting. Dengan menulis, kita dapat mentransfer ilmu pengetahuan kepada generasi penerus. Dengan menulis, masyarakat memiliki intelektual tinggi. Dengan menulis, suatu bangsa dapat menjadi Negara maju. Karena itulah menulis jika memang ingin membawa perubahan ke arah yang lebih baik.


Sabtu, 11 Maret 2017



Kakakku hero

          Matahari semakin memancarkan sinarnya. Memberi kehangatan di bumi yang besar ini. Pagi kembali hadir, dan manusia melakukan aktivitas seperti biasa.
            Rumah bercat dinding putih itu sudah terdengar ramai. Bukan hanya orang yang menghuni tempat itu saja, tetapi juga hewan yang berada di sekitar istana sederhana tersebut.
            Gadis berkuncir satu itu sudah duduk di motor matik berwarna hitam itu. Perlahan ia menyalakan kendaraan itu, lalu memencat klakson. “Tiara, cepetan udah siang nih,” gerutunya kesal.
            “Iya sebentar,” jawab gadis berseragam putih abu-abu itu. Dengan terburu-buru ia memakai sepatu hitamnya, kemudian berjalan menuju halaman rumah tepat di bawah pohon rindang tempat kurungan ayam berbentuk bulat itu. Ia mencium tangan laki-laki yang dari tadi sibuk memberi makan ayam jago itu. “Babe, Tiara berangkat ya. Assalamualaikum,” ucapnya sambil membalikkan badan, lalu duduk di motor hitam tersebut.
            Laki-laki berambut separuh putih itu berkacak pinggang. “Iye, hati-hati ye. Waalaikumsalam,” jawabnya.
            “Be, Tantri berangkat kerja juga ye, Assalamualaikum,” ucap gadis tomboy itu. Ia kemudian berlalu dengan motor matik miliknya.
*
            Ruang kantin sekolah semakin ramai. Gadis berambut panjang itu mendudukkan tubuhnya si kursi panjang yang terbuat dari kayu berwarna coklat itu. Ia memesan semangkuk bakso dan segelas teh manis. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain, memesan menu yang sama.
            Remaja itu mengobrol santai, dengan tawa kecil merenyahkan suasana istirahat. Selang beberapa lama pun pesanan mereka sudah disajikan di atas meja.
            “Tiara, gue bingung deh sama lo,” ucap Riska, salah satu temannya.
            “Bingung kenapa lo?” jawab Tiara singkat. Ia sibuk mengaduk bakso dengan saus dan sambal.
            “Lo kenapa sih nggak mau bawa motor sendiri. Padahal lebih asyik kalau kemana-mana naik motor,” tutur Riska to the point.
            Tiara memakan bakso kecil itu satu persatu. “Kan gue udah pernah cerita kalau gue emang nggak bisa naik motor,” jawab gadis itu, jujur.
            “Tapi kan lo harus belajar naik motor juga biar bisa jadi hero kaya kakak lo.” Riska menjelaskan.
            Tiara menaikkan sebelah alisnya. Ia diam sejenak. Mendengar kalimat barusan membuat hatinya menjadi tidak enak. Nafsu makannya hilang.
            “Tiara, jadi kapan lo mau  belajar motor?” tanya remaja di hadapannya , menegaaskan.
            Tiara mengangkat bahunya. “Kapan-kapan,” jawabnya singkat.
*
            Hari sudah gelap. Lampu kamar pun sudah dimatikan. Malam sudah terasa sunyi. Hanya bunyi detik jarum jam yang terus berputar.
            Gadis itu menarik selimutnya, lalu memiringkan tubuhnya ke arah kiri tempat tidur. Ia menatap jendela berbentuk khas betawi. Tatapan itu kosong, hanya pikirannya terus saja bekerja. Entah kenapa ucapan Riska tadi siang selalu terngiang di telinganya.
            “Mungkin benar ucapan Riska. Kak Tantri itu memang hero dari dulu. Bahkan bukan hanya di mata keluarga ini saja, tetapi di mata orang lain juga. Sedangkan gue? Gue hanya gadis manja yang nggak pernah bisa apa-apa, juga nggak bisa mandiri. Sampai kapanpun kak Tantri memang menjadi hero,” pikirnya di benaknya.
            Lamunan itu buyar. Ada suara langkah kaki dari arah pintu. Kemudian pintu terbuka.
            “Pasti itu kak Tantri,” ucap Tiara dalam hati.
            Gadis itu melempar tasnya di kasur empuk itu. Lalu melepaskan jaket hitam berbahan jeans dan menaruhnya di atas kasur. Ia kemudian mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Tantri menatap adiknya yang sedang tidur memunggunginya. “Tiara,” panggilnya pelan.
            Tiara memejamkan matanya. Ia tidak menjawab sapaan itu. Aneh memang sepertinya, tapi ia saat ini sedang tidak ingin berbicara dengan gadis tomboy itu. Padahal biasanya malam-malam begini paling seru jika curhat dengan kakaknya itu. Tapi mau diapakan lagi, hatinya sedang tidak nyaman. biarkan sajalah ia berpura-pura tidur. Mungkin lebih baik.
*
            “Tiara, Tantri bangunnnnnnnn,” teriak suara perempuan dari luar kamar.
            Gadis berambut panjang itu terhenyak. Kaget mendengar alarm pagi itu. Ia mendengus kesal. “Iye Nyak sebentar,” jawabnya dengan mata masih menyipit. “Hah, memang sudah kesiangan apa,” gerutunya pada diri sendiri. Ia mencoba bangkit dari kasur itu dan mengerjapkan matanya. Ia menatap jendela dan merasakan sinar hangat itu masuk dari celah kecil jendela tersebut. Matanya kemudian beralih kepada jam dinding yang bergantung itu. “Apa? Sudah hampir jam tujuh. Wah gawaat, gue telat,” teriaknya dengan mata melotot. Ia kemudian berlari menuju kamar mandi.
            Tantri terbangun mendengar teriakan Tiara. Kini giliran ia yang harus rapi-rapi untuk mengantar Tiara sekolah. Nasib seorang kakak, padahal hari ini ia masuk kerja siang. Tantri menghela napas kemudian berjalan menuju meja makan.
            Tentu saja di meja makan sudah ada Babe dan Nyak yang sudah menunggu sejak tadi. Keduanya pun sudah memasang wajah marah, sepertinya pagi ini ia dan Tiara akan mendapat ceramah pagi lagi.
            “Tiara, Tantri gue mau ngomong ame lo berdua,” ucap laki-laki berlogat betawi itu.
            “Iye Be, ada ape?” tanya Tantri pelan.
            Babe menghela napas. “Lame-lame lo pade kalah noh sama si jago. Ayam aje bisa bangun pagi-pagi. Masa lo yang anak gadis bangunnya siang terus. Malu lo sama ayam,” ceplos Babe sekenanya.
            “Iye, Be. Tantri minta maaf. Besok Tantri coba belajar bangun lebih pagi,” jawabnya pelan.
            Mata Babe menatap anak keduanya, Tiara. “Nah lo Tiara, harusnya lo nggak boleh manja sama kakak lo. Kakak lo kan udah cape kerja, masa berangkat sekolah juga dianterin. Lo kan bisa noh naik angkot, atau lo belajar motor,” ucap Babe, menasehati.
            “Iya, Be,” jawab Tiara singkat. Lagi-lagi ia selalu mendapat cap manja di keluarganya sendiri.
            Tantri dan Tiara terburu-buru menghabiskan sepiring nasi goreng dan secangkir teh hangat, sarapan mereka. Kemudian keduanya mencium tangan Babe dan Nyak, lalu beranjak menuju beranda rumah.
            Seperti biasa, kalau sudah telat seperti ini, maka Tantri meminta Tiara pegangan yang kuat, dan kendaraan roda dua itu ia kemudikan dengan kecepatan tinggi.
*
            Lima belas menit kemudian motor hitam itu sudah berhenti tepat di gerbang sekolah. Tantri menatap aneh adiknya tersebut. Sejak tadi di jalan, ia bisa melihat wajah Tiara yang murung dari kaca spion motor.
            “Tiara tunggu, gue mau ngomong ama lo,” ucap Tantri tiba-tiba. Menghentikan Tiara sejenak.
            “Ada apa kak?” jawabnya malas.
            “Lo marah ya sama gue?” tanya Tantri singkat.
            “Nggak kok,” jawab Tiara, mengelak.
            “Nggak perlu ditutupin, gue bisa baca muka lo, kalau lo itu marah sama gue.” Tantri masih tak mau kalah.
            Tiara menghela napas. “Iya gue marah sama lo,” jawabnya jujur. Ia menekuk wajahnya.
            “Alasannya?”
            “Karna gue kesal kak. Semua orang mulai dari Nyak, Babe, sampe teman sekelas gue selalu bilang kalau lo itu hero, sedangkan gue cuma anak manja yang nggak bisa apa-apa,” jawab Tiara dengan mata berkaca-kaca.
            “Astaghfirullah. Ya ampun Tiara.” Tantri terhenyak mendengar kata-kata barusan.
            “Tapi betul kan kak. Dari kecil, kalau ada teman yang jahat sama gue, yang jadi hero itu siapa? Lo kan. Yang suka antar jemput gue siapa? Lo juga kan. Terus gue bisanya apa kak? Gue bisanya nangis,” ucap Tiara. Suaranya kini terdengar serak.
            Tantri menatap Tiara lekat-lekat. “Hey, nggak lo itu nggak manja. Buktinya lo bisa belajar tanpa dibantu, itu kan juga mandiri. Tiara, lo juga bisa jadi hero, tapi bukan saat ini dan bukan dengan jalan kerja kaya gue. Tapi lo bisa jadi hero buat masa depan kita,” ucap Tantri dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk adiknya tersebut. “Jangan nangis, calon hero harus kuat,” bisiknya.
            Tiara mengangguk semangat. “Iya kak, makasi atas supportnya. Maaf gue dari semalam ngambek kaya tadi. Janji deh, besok nggak akan begitu lagi,” ucapnya ceria. Ia mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda minta maaf.
            Tantri pun membalasnya dengan jari yang sama. “Yaudah masuk gih sana. Udah telat tuh. Inget ye, kalau kakaknya hero, pasti adiknya juga bisa jadi hero. Tapi ingat, tetap harus rajin belajar.” Tantri menyemangati.
            “Siap kakak hero,” jawab Tiara, semangat.
            Gadis itu pun bergegas menuju sekolah. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada gadis tomboy itu. “Hari ini ia mendapatkan pelajaran baru, bahwa seorang hero tidak boleh manja, seorang hero harus selalu semangat, dan seorang hero siap memegang tanggung jawab,” tuturnya dalam hati.