Pesan dalam bait
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah jalan yang kutemui
Untuk kita kembali lagi
Merdu suara Ruth Sahanaya terdengar melengking di sekitar ruangan. Kemudian menyusul lengkingan suara gadis berambung keriting gantung itu. Gadis cantik itu sedari tadi hanya menyanyi di depan laptop miliknya, membuat video cover yang menampilkan rambutnya yang hitam dan terawat.
"Fa, Aufa!" Teriak seorang perempuan dari dalam kamar yang letaknya tidak jauh dari ruangan tempat gadis itu duduk. "Aufa kecilkan mp3 lagunya," ucapnya lagi.
Aufa menyentuh gambar volume pada layar laptopnya. Ia mengecilkan musik tersebut. Gadis itu kini mengambil gitar berwarna cokelat yang berada tepat di sebelahnya. Perlahan jemarinya yang lentik pun memetik senar pada gitar tersebut. Jarinya yang lain memainkan kunci alat musik itu. Dan... seperti biasa suara gadis itu kembali terdengar melantunkan kata kata indah.
"Assalamualaikum." Suara lelaki bertubuh besar itu terdengar dari pintu rumah itu. Lelaki dengan rambut yang hanya tinggal separuh itu memasuki rumah bergaya pop art tersebut. Ia pun mendudukkan tubuhnya pada sofa berwarna merah itu. Ia duduk di samping gadis itu.
Aufa menghentikan permainan gitarnya. "Pa, dari mana?" Tanyanya menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya Papa lagi di belakang ya sedang kasih makan ikan."
Laki-laki dengan rambut yang hampir botak itu menghela napas. Ia menggelengkan kepala. "Fa, kamu tanya Papa dari mana? Kamu, Papa keluar aja nggak tahu." Ia tertawa kecil. Bola matanya yang kini tampak mengecil itu kini menatap mata anaknya tersebut. Sebuah tatapan khawatir yang tersembunyi.
Merasa diperhatikan seperti itu, ia berdeham. "Pa, kok lihat aku seperti itu?" Tanya Aufa menyelidik.
"Papa hanya khawatir sama kamu."
Aufa mengerutkan keningnya. Membuat kadua alisnya beradu. "Maksud Papa?" Gadis itu masih saja bertanya.
"Hah sudah lupakan," ucap Papa. Ia mengalihkan tatapannya pada rambut keriting gantung yang kini menjadi style putri semata wayangnya. "Rambutmu Fa, kapan mau ditutupi jilbab?"
Gadis itu mengangkat sebelah pundaknya. "Jilbab Pa? Yah nanti aja deh. Lagian kalau jadi penyanyi itu kan nggak laku kalau berjilbab," jawab gadis itu sekenanya.
"Jadi penyanyi itu nggak baik Fa." Mama menimpali. Perempuan yang mengenakan hijab ala angel lelga itu kini sudah berada di ruangan. "Sayang Fa kalau suara kamu yang bagus itu untuk menjadi penyanyi. Lebih baik mengaji," ujar perempuan itu.
Aufa terdiam. Gadis itu terpojok. Ia menghela napas. "Ehm, mengaji ya Ma. Oiya Ma, nanti sore aja ya. Aku banyak tugas nih." Gadis itu mencari alasan. Wajahnya ia pasang menjadi sibuk. Aufa pun meninggalkan ruangan itu. "Ya Ma, nanti saja," ucapnya seraya berjalan ke arah kamarnya.
* * *
Aufa menarik selimutnya. Ia memejamkan mata. Namun berkali-kali rasanya bola matanya belum ingin beristirahat. Berbagai cara ia lakukan tetapi tetap saja gadis itu belum bisa tidur.
"Mungkin...." gumamnya. Ia menghela napas. Pikirannya memutar kembali obrolan tadi siang.
"Apa yang salah? Memang nggak boleh ya kalau aku berpenampilan seperti ini. Rambut aku kan bagus, bahkan banyak yang bilang ini rambut barbie. Kenapa juga harus ditutupi. Penyanyi nggak bagus, lebih baik mengaji. Hah Mama dan Papa nggak pernah mengerti." Aufa bergumam seorang diri. Ia mendengus kesal. "Naya, aku mau curhat." Gadis itu memejamkan mata. Menunggu matahari terbit dengan pikiran yang masih menggantung.
* * *
"Fa, kamu kenapa semalam nggak mengaji? Padahal Mama tunggu kamu loh di ruang keluarga." Mama membuka obrolan di sela sarapan.
Bola mata Aufa terlihat membesar. "Oiya Ma, maaf Aufa lupa," ucapnya spontan. Ia terdiam sejenak. "Ehm, semalam sehabis belajar aku ketiduran." Gadis itu mencari alasan.
Mama menatap selidik dalam tatapannya yang hangat. "Yaudah nggak apa kalau kamu ketiduran. Yang penting kamu nggak bohong." Celetuk perempuan itu, seolah ia mengetahui bahwa putrinya tersebut sedang berbohong.
"Uhuk." Mendengar ucapan Mama, seketika gadis itu terbatuk. Ia terdiam sebentar melirik wajah Mama dan Papa yang merasa heran. Dengan gerakan gugup ia mengalihkan perhatian. "Ma, Pa Aufa sudah telat." Ia menghabiskan potongan sandwich yang ada di tangannya. Kemudian meneguk segelas susu dan bergegas meninggalkan meja makan itu.
* * *
Hari ini pikiran Aufa kacau. Ia berjalan malas di taman sekolah. Ia mendengus kesal. "Huh, apaan sih Naya bikin bt aja," gumamnya. Gadis berseragam putih abu itu berkacal pinggang.
"Aufa kalau menurut aku, kamu itu nggak salah kok. Kalau kamu belum siap berjilbab ya nggak usah dipaksain. Terus sekarang Fa, kamu nggak boleh jadi penyanyi yang jelas lebih bisa menghasilkan uang. Ngapain sih ngaji, toh cuma buat akhirat aja. Hallo Fa, kita masih lama loh perjalanannya. Kalau hanya memikirkan akhirat terus kita mau kelaperan gitu." Remaja itu mendengus. Kemudian melanjutkan ucapannya. "Payah nih ortu kamu Fa. Harusnya ortu kamu ngertiin posisi kamu sebagai anak muda. Ortu kamu nggak gaul Fa." Gadis itu terus saja berkomentar dengan pandangannya.
Ya, Naya si gadis SMA yang masih duduk di kelas sepuluh. Ia memang tipe anak yang agak bebas, keras kepala, dan tidak mau kalah. Buktinya saja hari ini Aufa yang semula berniat curhat kepada Naya malah Naya tak memberi kesempatan pada temannya tersebut untuk sekedar menyampaikan uneg-unegnya tanpa dikomentari. Tapi sayang Naya kalau sudah berbicara terus saja seperti tidak ada rem. Naya memang selalu begitu.
Aufa melangkah pelan diatas rerumputan taman sekolah. Ia menarik napas dalam sembari mengitarkan pandangannya. Namun tatapan itu terhenti pada seseorang di sana. Gadis yang tengah duduk di atas rumput dengan teduhan dahan pohon. Gadis berjilbab dengan kaca mata yang selalu ia kenakan dan buku yang sedang ia baca.
Aufa menghampiri remaja itu. Tak tahu angin apa yang menuntunnya duduk mendekati gadis berkaca mata tersebut. Padahal, biasanya ia tidak pernah mau berbicara dengan siswi yang ia rasa cupu itu. Tetapi kali ini ia sadar, bahwa temannya bukan hanya Naya seorang. Ia bisa curhat pada gadis itu juga. Aufa membutuhkan pendapatnya yang bijak.
"Hai Nina, aku boleh duduk di sini," ucap Aufa seraya ikut duduk di sebelah siswi berkaca mata itu.
"Tentu boleh dong," jawab Nina. Ia melempar senyum kepada Aufa kemudian kembali menyibukkan diri dengan membaca.
"Nin," panggil Aufa pelan.
"Iya ada apa Fa?" Tanya siswi itu. Ia memperhatikan wajah Aufa yang murung. "Kamu ada masalah Fa? Kamu bisa cerita kok sama aku." Nina kembali menerbitkan senyum.
Aufa menghela napas. "Jadi gini Nin, menurut kamu kenapa perempuan itu harus berjilbab, dan kenapa ada yang bilang kalau perempuan itu nggak bagus jadi penyanyi?" Tanya Aufa pelan.
"Ya menurutku memang mengenakan hijab, jilbab atau kerudung adalah kewajiban bagi wanita setelah baligh. Karna kalau wajib itu kan harus, kalau nggak mengikuti perintah itu ya berdosa. Rambut kan aurat wanita. Hmm, kalau soal penyanyi, sebetulnya suara wanita itu aurat. Jadi wanita dalam agama nggak boleh bernyanyi khususnya lagu cinta. Mungkin kalau lagu sholawat atau qosidah bisa." Jelas Nina kepada temannya yang duduk di sebelahnya itu.
Cewek berpotongan rambut keriting itu tampak mengerutkan kening. "Terus gimana dengan mengaji?" Tanya Aufa yang masih penasaran.
"Mengaji itu ibadah, jelas mendapat pahala. Dengan mengaji, bacaan itu akan menjadi teman manusia di alam kubur kelak. Sedangkan menyanyi hanya kata-kata sia-sia," jawab Nina bersemangat.
Aufa hanya mengohkan mendengar jawaban siswi berjilbab itu. Ia tersentak. Tiba-tiba ia teringat pada ucapan Mama dan Papa. Benar kata kedua orangtuanya. Ia menatap Nina yang sudah kembali dalam kesibukannya membaca buku. Suasana hening. Aufa memasang earphone berwarna pink di telinganya.
Gadis yang duduk di sebelahnya itu memperhatikan temannya yang asyik mendengarkan mp3 di handphonenya. Ia menyiku temannya pelan. "Serius banget Fa, kamu lagi denger apa sih?"
"Ini lagu lama yang di cover ulang Noah. Judulnya Andaikan kau datang kembali," ucap Aufa dengan senyum yang mulai terlukis di wajahnya.
"Oh."
"Oh?" Aufa mengerutkan kening. "Kamu tahu lagu ini Nin?" Tanya gadis itu.
"Kamu tahu lagu ini tentang apa?" Alih-alih menjawab pertanyaan, gadis itu malah balik bertanya.
"Tentang seseorang yang pacarnya pergi meninggalkan dia," jawab Aufa yang sangat hafal lagu kesukaannya tersebut.
"Kalau menurutku, lagu ini ada pesan religinya. Menceritakan tentang kehidupan dunia yang perlahan pergi meninggalkan dan kembali kepada kehidupan di akhirat," tutur siswi tersebut. Ia menatap Aufa yang tampak berpikir.
"Hah, maksudnya?" Tanya Aufa.
Terlalu indah dilupakan.
Terlalu sedih dikenangkan.
Setelah aku jauh berjalan.
Dan kau kutinggalkan.
(Allah Swt yang sering terlupakan).
Betapa hatiku bersedih.
Mengenang kasih dan sayangmu.
(Allah Swt).
Setulus pesanmu kepadaku.
Engkau kan menunggu.
(Di Padang Mahsyar).
Andaikan kau datang kembali.
Jawaban apa yang kan ku beri.
(Mengutus malaikat di dalam kubur. Saat menanyai iman dan amal saleh di dunia).
Adakah cara yang kau temui.
(Takdir Allah)
Untuk kita
(Makhluk)
Kembali lagi
(Andaikan dapat hidup kembali di dunia menebus kesalahan)
Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintaNya.
Bersinarlah terus sampai nanti.
(Hidayah dan ampunan Allah).
Lagu ini ku akhiri.
(Menghadap khusnul khotimah).
Aufa merenung mendengar penuturan gadis berkaca mata itu. Ia terhenyak. Pikirannya melayang mengingat semua ceramah yang selalu orangtuanya ucapkan. Selama ini ia menganggap kedua orangtuanya cerewet terlalu banyak berkomentar. Padahal semua dilakukan untuk menuntun putrinya menjadi gadis yang soleha.
"Fa, hidup hanya sekali. Tidak bisa terulang kembali. Jadi, semoga di perjalanan hidup yang singkat ini kita bisa memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada Allah." Nina kembali menasehati. Ia menatap wajah temannya yang kini tampak sedih.
Perlahan air mata Aufa menetes dari sudut matanya. Hati Aufa terasa sedih.
* * *
Perempuan berwajah penyayang itu menatap putri semata wayangnya. Di sebelahnya tampak lelaki yang rambutnya hampir habis itu turut menatap wajah gadis yang kini tertutup dengan kerudung sederhana berwarna putih.
"Fa, ada apa? Kamu mau bicara apa?" Tanya Mama membuka obrolan di tengah keheningan tersebut.
Sudah beberapa menit mereka hanya bertatap dalam diam. Katanya putrinya itu ingin bicara pada kedua orangtuanya. Namun anehnya Aufa malah terdiam dengan tatapan menerawang dan mata yang agak sembap. Ia, Aufa gadis itu termenung mengingat kesalahan yang ia lakukan selama ini. Remaja itu terus mengingat percakapan kemarin dengan salah seorang temannya.
Ya, apa salahnya jika Mama dan Papanya menginginkan yang terbaik untuk Aufa. Putri semata wayangnya. Dan inilah alasan Papa menyuruhnya mengenakan hijab? Agar ia tidak berdosa mengumbar aurat. Dan inilah alasan Mama memaksanya mengaji? Agar ia mendapat cahaya dan teman di alam akhirat nanti. Kenapa selama ini ia menuruti egonya tanpa mau memperdulikan perkataan terbaik itu.
"Ma, Pa maafkan Aufa ya."
"Iya sayang," jawab Mama seraya mengelus pipi gadis itu.
"Maaf jika selama ini, aku nggak ikutin perintah Mama Papa." Aufa menghela napas. "Ma, aku mau berubah," ucap gadis yang kini sudah mengenakan kerudung.
"Fa, anggap yang kemarin sebagai pelajaran."
Aufa memandang wajah perempuan pahlawan hidupnya itu. "Ma, Aufa mau mengaji Ma," pintanya sambil menatap bola mata Mama.
Mama terlihat mengangguk. "Fa, Mama bangga punya anak seperti kamu Nak. Mama akan mengajarkan mengaji setiap ba'da isya dan juga Aufa bisa ikut pengajian remaja yang rutin di adakan di masjid dekat rumah."
Aufa mengembangkan senyum manisnya. "Makasih Ma. Kapan aku bisa ikut pengajian remaja masjid Ma?" Aufa bertanya penuh semangat.
"Besok sayang," ucap perempuan itu disertai senyuman lega sudah berhasil menuntun anaknya ke jalan yang lebih baik.
"Alhamdulillah," Aufa merasa bahagia. Sungguh bahagia.
Terimakasih Ma, Pa sudah menuntun setiap anaknya menjadi anak yang soleh dan soleha. Sungguh perhatian yang tidak bisa terbayar.
Pagi itu, ruangan tempat mereka berkumpul terasa sangat hangat. Aufa memeluk kedua orangtuanya tersebut.
Author : Ine Dwi S
Cerpen sederhana
Sabtu, 30 September 2017
Jumat, 28 Juli 2017
Pemuda
Islam dan Tantangan Generasi
Oleh
: Ine Dwi S
Islam,
tentu semua orang sudah mengenal agama Islam. Agama Islam merupakan salah satu
dari lima agama yang diakui di Indonesia. Agama Islam masuk ke Indonesia pada
sekitar abad ke tujuh dan dibawa oleh para pedagang dari India, Gujarat, Persia
dan Arab, yang kemudian dilanjutkan penyebarannya oleh para wali sanga hingga
agama Islam tersebar hampir ke seluruh tanah air kecuali daerah Ternate. Dengan
penyebaran yang begitu luas, membuat agama Islam menjadi agama terbesar di
Indonesia.
Menurut
hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, tercatat
sebanyak 207.176.162 pemeluk agama Islam di Indonesia. Provinsi dengan penduduk
muslim terbanyak berada di Jawa Barat sekitar 41.763.592 jiwa. Namun di wilayah
Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih relatif sedikit muslim. Jika dihitung
persentase dari rata-rata persentase penganut Islam di setiap provinsi akan
terdapat 87,18% jumlah penduduk muslim dari total penduduk Indonesia. Jumlah
penduduk muslim tersebut, tentunya terdapat anak-anak, pelajar, pemuda, orang
dewasa, sampai orangtua.
Sejarah
mengingatkan, pemuda memiliki peranan penting terhadap tanah air ini. Bagaimana
tidak, pemuda Indonesia turut membela tanah air dengan sekuat tenaga, bahkan
berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melawan para penjajah. Mulai dari
Sabang sampai Merauke. Dari perlawanan di berbagai wilayah menggunakan senjata
tradisional dan membuat gugur banyak pahlawan, hingga lahirnya pergerakan
nasional organisasi pemuda bangsa. Bermula dari organisasi modern Budi Utomo
yang didirikan oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA di Jakarta pada tanggal 20
Mei 1908 dengan pendiri Sutomo, Suraji, dan Gunawan Mangunkusumo. Kemudian
Indische Partij yang didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E Dowes Dekker,
dr. Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Disusul Sarekat Islam didirikan
di Solo tahun 1911 oleh Haji Samanhudi. Juga ada PNI yang didirikan oleh Ir.
Soekarno, Mr. Sartono, Mr. Sunaryo. Ada juga pergerakan kaum wanita oleh Raden
Ajeng Kartini. Gerakan Pemuda Kedaerahan seperti Tri Koro Darmo, Jong
Sumatranen Bond, Jong Islamiten Bond, PPI, dan PI. Semua organisasi tersebut
merupakan bukti sikap patriotisme pemuda Indonesia kepada tanah air tercinta.
Pada
saat ini, kenyataan tersebut seperti bertolak belakang dengan fakta yang
terjadi. Bukannya membuat prestasi dan mengharumkan nama bangsa, tetapi malah
menghancurkan nama bangsa. Hanya segelintir pemuda yang dapat menorehkan
prestasi kepada bangsa. Tetapi yang lain, kebanyakan dari mereka merusak
dirinya sendiri. Mereka melupakan tentang perjuangan para pemuda dahulu yang
mati-matian mempertahankan Indonesia. Padahal pahlawan mengharap generasi
penerus dapat hidup damai, sejahtera di negeri sendiri. Namun faktanya generasi
muda sedang dijajah oleh perubahan zaman yang membuat sebagian pemuda melakukan
penyimpangan. Perbuatan tersebut bermacam-macam, ada corat-coret, tawuran,
minum-minuman keras, berjudi, seks bebas, narkoba, hingga teror bom. Perbuatan
tersebut yang dilakukan oleh sebagian kaum muda, merusak bangsa. Jika tidak
diberantas secara serius, ini akan berakibat fatal bagi generasi penerus. Ini
merupakan tantangan generasi muda khususnya pemuda Islam untuk memperbaiki dan
membuat Indonesia menjadi lebih baik.
Mencorat-coret
sembarangan. Di Indonesia banyak terjadi perilaku menyimpang tersebut.
perbuatan ini dinamakan Vandalisme, yaitu perbuatan merusak dan menghancurkan
hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya),
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Objek Vandalisme ini adalah berbagai
fasilitas umum, seperti dinding, jalan, jembatan, halte, angkutan umum, tiang
listrik, pohon, sampai papan reklame, itu semua menjadi tempat coretan tangan
jahil yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya fasilitas umum menjadi rusak, dan
hal ini mengganggu pemandangan dengan tulisan tidak jelas yang pelaku buat,
juga gambar tidak senonoh. Perilaku merusak yang seperti sudah menjadi
kebiasaan bahkan terbawa hingga ke luar negeri. Menurut berita yang ditulis
Detik Travel, aksi Vandalisme yang diduga dilakukan orang Indonesia di Jepang,
Cina.. Di Gunung Fuji Jepang ditemukan graffiti oranye bertuliskan ‘Cla-X
Indonesia.’ Diduga pelakunya berasal dari Klaten dengan alasan kata Cla-X itu
dibaca Klaten. Di tembok besar Cina ditemukan tulisan ‘2010-09-05’ dibawahnya
ada kata Indonesia dan Samarinda. Perbuatan turis Indonesia tersebut membuat
malu Negara. Indonesia dengan pemeluk Islam 87,18% yang dengan jelas agama
Islam mencintai kebersihan. Umat Islam malah tidak menjalankan perintah itu.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya “Sesungguhnya Allah
menyukai orang yang taubat dan menyucikan diri” dan hadis “Kebersihan sebagian
dari iman”. Mendengar perintah itu, sudah seharusnya pemuda Islam menjaga
kebersihan. Ini merupakan tantangan generasi muda Islam untuk tidak terlibat
vandalism dan mengajak generasi penerus untuk cinta kebersihan.
Tantangan
generasi muda selanjutnya adalah memberantas tawuran antara pelajar. Banyak
pelajar sekolah menengah di Indonesia yang saat ini terlibat dalam perkelahian.
Berawal dari iseng meledek sekolah lain, kemudian berlanjut pada kekerasan.
Data Komisi Nasional Perlindungan Anak, merilis jumlah tawuran pelajar tahun
2012 sebanyak 147 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang. Menurut berita yang
ditulis oleh Detik News, kasus tawuran pelajar di kota Yogyakarta pada tahun
2016 mengalami peningkatan. Jumlah kasus tawuran pelajar di daerah Yogyakarta
sebanyak 43 kasus. Padahal, kota Yogyakarta adalah kota pelajar yang seharusnya
pelajarnya mengharumkan nama kota bukan hanya soal tawuran saja. Di Indonesia
kasus bullying juga terjadi di sekolah pada tahun 2015, LSM Plan International
dan International Center for Research on Woman (IRCW) melakukan riset terkait
bullying. Hasilnya, terdapat 84% anak di Indonesia mengalami bullying di
Sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Negara lain di kawasan Asia.
Allah swt berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya “Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” Seharusnya
kejadian tawuran dan bullying tersebut tidak terjadi di Negara Indonesia.
Apabila para kaum muda memahami ayat Allah swt, karena pertengkaran dapat
memutuskan tali persaudaraan.
Berjudi
dan mabuk. Perilaku tersebut masih sering terjadi di Indonesia. Padahal para
pelaku yang bermain judi sudah dikenakan Tindak Pidana KUHP Pasal 303 dengan
pidana penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua
puluh lima juta rupiah. Mabuk-mabukan, perilaku ini seperti tidak ada habisnya.
Banyak miras oplosan dijual secara bebas. Kasus miras oplosan yang memakan
korban terus terjadi. Menurut berita yang ditulis realita.co, tercatat sejak
tahun 2015 hingga awal tahun 2016 sudah 308 orang tewas akibat menenggak
minuman tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun oleh komunitas masyarakat
Indonesia mencatat, tahun 2015 sudah ada 302 korban meninggal, ditambah tanggal
3 Januari 2016 di Semarang, terdapat 2 orang tewas akibat miras oplosan. Kejadian
sudah banyak, tetapi orang masih tidak takut dengan apa yang akan terjadi
setelah minum miras oplosan. Padahal Allah melarang dengan jelas dilarang
meminum sesuatu yang memabukkan. Q.S Al-Maidah ayat 90 menjelaskan “Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk
perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.” Dengan membaca ayat tersebut, diharapkan umat Islam tidak ada
lagi yang terjerumus kepada perbuatan berjudi dan mabuk. Ini adalah tantangan
generasi muda untuk tidak terjerumus kedalam perbuatan demikian.
Tantangan
kaum muda selanjutnya yaitu memberantas narkoba. Narkoba seperti tidak ada
berhenti. Semakin hari, narkoba terus merajalela. Narkoba menyentuh orang tua,
dewasa, remaja, hingga anak-anak. Berbagai cara dilakukan pengedar, contohnya
memasukkan narkoba ke dalam permen. Akhirnya mereka akan ketagihan dan terus
memakai. Narkoba itu membahayakan, merusak kehidupan, merugikan diri sendiri
serta orang lain. Sepanjang tahun 2016, BNN telah mengungkap 807 kasus
narkotika. Sebanyak 1.238 orang telah berstatus tersangka dan dibekuk petugas.
Diantaranya WNA 21 orang dan WNI 1.217 orang. Q.S Al-Baqarah ayat 195 yang
artinya. “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
Jadi sudah seharusnya generasi muda Islam turut serta memberantas narkoba.
Berzina.
Perbuatan ini sudah sangat jelas dilarang dalam Al-Qur’an. Hukumnya adalah dosa
besar. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S
Al-Israa ayat 32) dan Q.S Al-Furqon ayat 68, “Dan orang-orang yang tidak
menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina.
Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)
dosa(nya).” Perzinaan semakin marak di kalangan anak muda. Data pada tahun
2010, ada 80% remaja putri Ponorogo pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Sementara itu, 51%
para remaja Jabotabek tidak perawan. LSCK PUSBIH merilis angka mencapai 97,05%
para mahasiswi kota Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Komisi Nasional
Perlindungan Anak juga merilis data hasil survei di 12 kota besar di Indonesia
pada tahun 2007, sekitar 62,7% remaja SMP pernah berhubungan intim dan 21,2%
siswi SMA pernah menggugurkan kandungannya. Miris sekali mendengar fakta
tersebut.
Tantangan
bagi generasi ,muda yang terakhir dan terbesar bagi pemuda Islam adalah
memberantas terorisme. Belakangan ini Indonesia dikejutkan dengan seorang
pembawa bom yang merupakan perempuan. Bagaimana bisa perempuan yang memiliki
hati lebih lembut dari pria dapat masuk dalam kelompok teroris. Dengan menggunakan
istilah ‘jihad’ serta janji akan meninggal khusnul khatimah dan mendapat surga
di sisi Allah. Sesungguhnya pemikiran tersebut salah. Membawa bom lalu
meledakkannya, lalu ratusan nyawa melayang. Sementara pembawa bom akan mendapat
surga? Itu salah besar. Bagaimana mungkin mendapatkan surga jika membunuh
orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Para teroris meledakkan bom di
masyarakat yang tidak mengucilkan agama Islam. Mereka meledakkan bom di Negara
yang masih menghormati pemeluk Islam. Padahal umat Islam di Negara lain masih
dihormati, masih ada tempat untuk shalat, masih ada restaurant halal. Namun
akal licik jaringan teroris mengatasnamakan Islam. Mereka sengaja mencuci otak
agar orang mau masuk dalam jaringan tersebut. Mereka sengaja menghancurkan umat
Islam dari dalam. Untuk itu, umat Islam diharapkan berhati-hati terhadap ajakan
yang menjurus kepada teroris. Ingat bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah
memerangi lebih dahulu kaum kafir. Nabi berperang karena mereka yang memulai
dahulu dan pasukan berada dalam bahaya. Hukuman bagi pelaku teroris adalah
hukuman mati. Lalu jika dihukum mati, bagaimana nasib keluarga pelaku? Siapa
yang akan menafkahi? Bukankah itu sama saja bunuh diri, merusak diri sendiri
dan orang lain. Sedangkan semua umat Islam tahu bahwa bunuh diri dan merusak
diri termasuk perbuatan dosa. Bukan surga yang didapat tetapi neraka yang
didapat. Jadi sudah jelas bahwa terorisme itu dilarang dalam Islam.
Para
pemuda Islam Indonesia. Buka mata, buka hati. Sudah banyak sekali kekacauan
yang ditimbulkan oleh pemuda. Seharusnya para pemuda adalah pembawa perubahan.
Mengharumkan nama bangsa. Mengingat lagi sejarah, pemuda memiliki andil besar
dalam kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 26-28 Oktober 1928, Perhimpunan
Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) berkumpul di Jakarta dan dikenal dengan
Kongres Pemuda II Indonesia. Dalam Kongres tersebut, wakil-wakil pemuda
Indonesia menyatakan ikrar kebulatan tekad yang terkenal dengan nama Sumpah Pemmuda. Selain itu, peristiwa
kemerdekaan Indonesia dapat berlangsung karena kaum muda. Saat itu, ketika
Jepang kalah dalam Perang Dunia II, kemudian berita tersebut tersebar di
kalangan para pemuda Indonesia. Pemuda menganggap bahwa ini adalah moment tepat
untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Walaupun Soekarno dan Moh. Hatta
menolak, hingga membuat keduanya diasingkan ke Rengasdengklok pada tanggal 16
Agustus 1945 pukul 04.00 dini hari. Singkat cerita, pada akhirnya Soekarno dan
Moh. Hatta menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dan pada
tanggal 17 Agustus 1945 pembacaan proklamasi dilaksanakan di depan kediaman
Soekarno, dengan pengibaran bendera sang saka merah putih yang diiringi lagu
‘Indonesia Raya’. Keberhasilan proklamasi tidak luput dari peran kaum muda
seperti Chairul Saleh, Muwardi, Sukarni, Jusuf Kunto, Wikana, Darwis, Sutan
Sjahrir, dan masih banyak lagi. Para pemuda memang memiliki peran penting dalam
keberhasilan suatu bangsa.
Dalam
suatu pidato, Bung Karno mengatakan, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan
kuguncangkan dunia.” Menteri pemuda dan olahraga RI, Imam Nahrawi menyampaikan
amanatnya pada upacara hari Sumpah Pemuda ke 88, bahwa “Bung Karno tidak perlu
menunggu bonus demograf untuk bisa memberikan kehormatan yang layak bagi bangsa
dan Negaranya. Bung Karno hanya membutuhkan pemuda-pemudi unggul yang memiliki
kualitas dan visi yang besar dalam menatap dunia.”
Begitu
pentingnya peran pemuda dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Karena itu sudah
seharusnya generasi muda melanjutkan perjuangan pahlawan sebelumnya. Bukan
berjuang membawa senjata tradisional seperti dalam sejarah, melainkan berjuang
melawan dan memberantas perilaku dan kejahatan yang merugikan tanah air.
Sebagai generasi muda Islam seharusnya sadar bahwa tantangan generasi muda saat
ini sangat banyak. Sudah kewajiban pemuda dapat membawa nama Indonesia unggul
di mata dunia. Karena dengan seperti itulah sikap patriotisme tumbuh dalam
generasi emas anak bangsa.
Menulis menentukan perubahan
Dalam aktivitas
sehari-hari masyarakat sudah akrab dengan kegiatan menulis. Menulis sendiri
telah dimulai sejak kanak-kanak, dan terus berlangsung hingga masa tua. Sewaktu
belajar di TK, anak akan belajar memegang pensil yang benar, kemudian belajar
menggoreskannya di kertas. Ketika memasuki sekolah dasar sampai perguruan
tinggi, murid serta mahasiswa tidak ada hari tanpa menulis, baik menggunakan
pena maupun dengan bantuan komputer. Begitu juga ketika beranjak ke dunia kerja
dan hari tua, manusia tidak pernah lepas dari kegiatan tersebut.
Setiap peserta didik dilatih untuk menulis
bukan tanpa suatu alasan, melainkan karena kegiatan menulis sangat penting.
Jika membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan, maka menulis demikian sama
pentingnya dengan membaca. Dengan menulis, maka kita dapat membuka gerbang
peradaban yang lebih maju. Tulisan memiliki peranan dalam perkembangan suatu
bangsa.
Menurut
kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis diartikan sebagai membuat huruf
(angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya). Menulis
juga dapat diartikan melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang,
membuat surat) dengan tulisan. Sementara menurut Hargrove dan Pottet dalam
Abdurrahman (1998: 239) mengemukakan bahwa menulis merupakan penggambaran
visual tentang pikiran, perasaan, dan ide dengan menggunakan simbol-simbol
sistem bahasa penulisannya untuk keperluan komunikasi atau mencatat.
Kegiatan
menulis memiliki keterkaitan yang erat antara masa lampau dengan masa depan. Flashback ke zaman pra sejarah, ketika
manusia belum mengenal huruf dan budaya tulis menulis. Namun sebenarnya manusia
sudah memiliki budaya melukis di dinding gua. Gambar tersebut berisi sekumpulan
informasi yang sengaja dibuat sebagai memori kejadian. Lukisan-lukisan itu
bermanfaat sebagai informasi kepada keturunannya dan sebagai bahan pembelajaran
bagi generasi saat ini.
Selanjutnya
memasuki zaman sejarah, yaitu manusia sudah mengenal huruf dan budaya menulis.
Indonesia memasuki zaman sejarah ketika kerajaan kutai mulai berdiri yaitu abad
ke 4 masehi. Bukti sejarah menemukan yupa atau tugu batu yang tertulis dengan
menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Dengan budaya menulis itu,
saat ini kita dapat meneliti ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah.
Melintasi
sejarah Islam terutama dalam bidang menulis, kitab suci Al-Qur’an juga memiliki
sejarahnya sendiri. Nabi membacakan wahyu yang turun, kemudian para hafidz
menghafal setiap ayat tersebut, juga menuliskannya di pelepah kurma, batu,
batang kayu dan sebagainya. Ketika masuk pemerintahan Abu Bakar di zaman
khalifah, Umar Bin Khatab mengusulkan ide untuk membukukan mushaf Al-Qur’an
dikarenakan berbagai factor salah satunya karena banyaknya hafidz yang telah
meninggal dunia dan dikhawatirkan ayat Al-Qur’an akan tercecer. Singkat kata,
begitu penting menulis sampai akhirnya kita dapat ikut merasakan manfaat dari
tulisan tersebut.
Sebuah
kalimat mutiara dari Ali Bin Abi Thalib tentang tulisan yaitu “Semua penulis
akan meninggal hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah
yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” Tulisan ini mengingatkan kita
tentang pentingnya menulis. Bahkan karya itu akan terus hidup dan akan terus
bermanfaat kepada siapa yang membacanya.
Bicara
menulis memiliki peranan bagi perkembangan suatu bangsa, hal tersebut benar.
Dinasti Abbasiyah menaruh saham besar pada perkembangan ilmu pengetahuan. Pada
masanya, dibangun sebuah perpustakan besar bernama Bait Al-Hikmah, pusat
penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dan perpustakaan terbesar.
Penerjemahan buku asing digalakkan seperti buku filsafat Yunani. Sehingga
dinasti ini mampu berkuasa hingga lima ratus tahun.
Membuka
mata pada masa era modern, fakta yang terjadi adalah Negara Jepang mampu
menerbitkan 60.000 judul buku. Sementara, Inggris jauh lebih besar berada pada
angka 110.155 judul buku per tahun. Dengan
budaya menulis yang tinggi terbukti Negara-negara maju tersebut menjadi
Negara kuat yang penduduknya memiliki tingkat intelektual tinggi, kesejahteraan
serta kemajuan bangsanya dan dapat mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi
mendatang.
Sementara
mengkutip tulisan dari Ulfa Nur Zuhra dalam salah satu artikelnya, menurut
catatan terakhir Negara Indonesia hanya mampu menerbitkan 8000 judul buku.
Sedangkan Vietnam menerbitkan 15.000 judul buku. Bahkan menurut artikel yang
ditulis oleh Ruslan Burhani, minat ilmuwan di Indonesia dalam menulis jurnal
ilmiah masih rendah jika dibandingkan dengan Negara lain. Berdasarkan data dari
Scientific American Survey (1994)
menunjukkan kontribusi tahunan Scientist dan
Scholars Indonesia pada pengetahuan
sains, dan teknologi hanya 0,012 persen. Sementara Singapore mencapai 0,179
persen jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) angka yang dicapai
sebanyak 20 persen. Begitu rendahnya minat menulis di Indonesia.
Akhirnya
berdasarkan fakta yang terjadi, dapat disimpulkan bahwa menulis itu sangat
penting. Dengan menulis, kita dapat mentransfer ilmu pengetahuan kepada
generasi penerus. Dengan menulis, masyarakat memiliki intelektual tinggi.
Dengan menulis, suatu bangsa dapat menjadi Negara maju. Karena itulah menulis
jika memang ingin membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Sabtu, 11 Maret 2017
Kakakku
hero
Matahari
semakin memancarkan sinarnya. Memberi kehangatan di bumi yang besar ini. Pagi
kembali hadir, dan manusia melakukan aktivitas
seperti biasa.
Rumah
bercat dinding putih itu sudah terdengar ramai. Bukan hanya orang yang menghuni
tempat itu saja, tetapi juga hewan yang berada di sekitar istana sederhana
tersebut.
Gadis
berkuncir satu itu sudah duduk di motor matik berwarna hitam itu. Perlahan ia
menyalakan kendaraan itu, lalu memencat klakson. “Tiara, cepetan udah siang
nih,” gerutunya kesal.
“Iya
sebentar,” jawab gadis berseragam putih abu-abu itu. Dengan terburu-buru ia
memakai sepatu hitamnya, kemudian berjalan menuju halaman rumah tepat di bawah
pohon rindang tempat kurungan ayam berbentuk bulat itu. Ia mencium tangan
laki-laki yang dari tadi sibuk memberi makan ayam jago itu. “Babe, Tiara
berangkat ya. Assalamualaikum,” ucapnya sambil membalikkan badan, lalu duduk di
motor hitam tersebut.
Laki-laki
berambut separuh putih itu berkacak pinggang. “Iye, hati-hati ye. Waalaikumsalam,”
jawabnya.
“Be,
Tantri berangkat kerja juga ye, Assalamualaikum,” ucap gadis tomboy itu. Ia kemudian
berlalu dengan motor matik miliknya.
*
Ruang
kantin sekolah semakin ramai. Gadis berambut panjang itu mendudukkan tubuhnya
si kursi panjang yang terbuat dari kayu berwarna coklat itu. Ia memesan
semangkuk bakso dan segelas teh manis. Begitu juga dengan teman-temannya yang
lain, memesan menu yang sama.
Remaja
itu mengobrol santai, dengan tawa kecil merenyahkan suasana istirahat. Selang
beberapa lama pun pesanan mereka sudah disajikan di atas meja.
“Tiara,
gue bingung deh sama lo,” ucap Riska, salah satu temannya.
“Bingung
kenapa lo?” jawab Tiara singkat. Ia sibuk mengaduk bakso dengan saus dan
sambal.
“Lo
kenapa sih nggak mau bawa motor sendiri. Padahal lebih asyik kalau kemana-mana
naik motor,” tutur Riska to the point.
Tiara
memakan bakso kecil itu satu persatu. “Kan gue udah pernah cerita kalau gue
emang nggak bisa naik motor,” jawab gadis itu, jujur.
“Tapi
kan lo harus belajar naik motor juga biar bisa jadi hero kaya kakak lo.” Riska menjelaskan.
Tiara
menaikkan sebelah alisnya. Ia diam sejenak. Mendengar kalimat barusan membuat
hatinya menjadi tidak enak. Nafsu makannya hilang.
“Tiara,
jadi kapan lo mau belajar motor?” tanya
remaja di hadapannya , menegaaskan.
Tiara
mengangkat bahunya. “Kapan-kapan,” jawabnya singkat.
*
Hari
sudah gelap. Lampu kamar pun sudah dimatikan. Malam sudah terasa sunyi. Hanya
bunyi detik jarum jam yang terus berputar.
Gadis
itu menarik selimutnya, lalu memiringkan tubuhnya ke arah kiri tempat tidur. Ia
menatap jendela berbentuk khas betawi. Tatapan itu kosong, hanya pikirannya
terus saja bekerja. Entah kenapa ucapan Riska tadi siang selalu terngiang di
telinganya.
“Mungkin
benar ucapan Riska. Kak Tantri itu memang hero
dari dulu. Bahkan bukan hanya di mata keluarga ini saja, tetapi di mata
orang lain juga. Sedangkan gue? Gue hanya gadis manja yang nggak pernah bisa
apa-apa, juga nggak bisa mandiri. Sampai kapanpun kak Tantri memang menjadi hero,” pikirnya di benaknya.
Lamunan
itu buyar. Ada suara langkah kaki dari arah pintu. Kemudian pintu terbuka.
“Pasti
itu kak Tantri,” ucap Tiara dalam hati.
Gadis
itu melempar tasnya di kasur empuk itu. Lalu melepaskan jaket hitam berbahan
jeans dan menaruhnya di atas kasur. Ia kemudian mengempaskan tubuhnya ke tempat
tidur. Tantri menatap adiknya yang sedang tidur memunggunginya. “Tiara,”
panggilnya pelan.
Tiara
memejamkan matanya. Ia tidak menjawab sapaan itu. Aneh memang sepertinya, tapi
ia saat ini sedang tidak ingin berbicara dengan gadis tomboy itu. Padahal
biasanya malam-malam begini paling seru jika curhat dengan kakaknya itu. Tapi
mau diapakan lagi, hatinya sedang tidak nyaman. biarkan sajalah ia berpura-pura
tidur. Mungkin lebih baik.
*
“Tiara,
Tantri bangunnnnnnnn,” teriak suara perempuan dari luar kamar.
Gadis
berambut panjang itu terhenyak. Kaget mendengar alarm pagi itu. Ia mendengus
kesal. “Iye Nyak sebentar,” jawabnya dengan mata masih menyipit. “Hah, memang
sudah kesiangan apa,” gerutunya pada diri sendiri. Ia mencoba bangkit dari
kasur itu dan mengerjapkan matanya. Ia menatap jendela dan merasakan sinar
hangat itu masuk dari celah kecil jendela tersebut. Matanya kemudian beralih
kepada jam dinding yang bergantung itu. “Apa? Sudah hampir jam tujuh. Wah
gawaat, gue telat,” teriaknya dengan mata melotot. Ia kemudian berlari menuju
kamar mandi.
Tantri
terbangun mendengar teriakan Tiara. Kini giliran ia yang harus rapi-rapi untuk
mengantar Tiara sekolah. Nasib seorang kakak, padahal hari ini ia masuk kerja
siang. Tantri menghela napas kemudian berjalan menuju meja makan.
Tentu
saja di meja makan sudah ada Babe dan Nyak yang sudah menunggu sejak tadi.
Keduanya pun sudah memasang wajah marah, sepertinya pagi ini ia dan Tiara akan
mendapat ceramah pagi lagi.
“Tiara,
Tantri gue mau ngomong ame lo berdua,” ucap laki-laki berlogat betawi itu.
“Iye
Be, ada ape?” tanya Tantri pelan.
Babe
menghela napas. “Lame-lame lo pade kalah noh sama si jago. Ayam aje bisa bangun
pagi-pagi. Masa lo yang anak gadis bangunnya siang terus. Malu lo sama ayam,”
ceplos Babe sekenanya.
“Iye,
Be. Tantri minta maaf. Besok Tantri coba belajar bangun lebih pagi,” jawabnya
pelan.
Mata
Babe menatap anak keduanya, Tiara. “Nah lo Tiara, harusnya lo nggak boleh manja
sama kakak lo. Kakak lo kan udah cape kerja, masa berangkat sekolah juga
dianterin. Lo kan bisa noh naik angkot, atau lo belajar motor,” ucap Babe,
menasehati.
“Iya,
Be,” jawab Tiara singkat. Lagi-lagi ia selalu mendapat cap manja di keluarganya
sendiri.
Tantri
dan Tiara terburu-buru menghabiskan sepiring nasi goreng dan secangkir teh
hangat, sarapan mereka. Kemudian keduanya mencium tangan Babe dan Nyak, lalu
beranjak menuju beranda rumah.
Seperti
biasa, kalau sudah telat seperti ini, maka Tantri meminta Tiara pegangan yang
kuat, dan kendaraan roda dua itu ia kemudikan dengan kecepatan tinggi.
*
Lima
belas menit kemudian motor hitam itu sudah berhenti tepat di gerbang sekolah.
Tantri menatap aneh adiknya tersebut. Sejak tadi di jalan, ia bisa melihat
wajah Tiara yang murung dari kaca spion motor.
“Tiara
tunggu, gue mau ngomong ama lo,” ucap Tantri tiba-tiba. Menghentikan Tiara
sejenak.
“Ada
apa kak?” jawabnya malas.
“Lo
marah ya sama gue?” tanya Tantri singkat.
“Nggak
kok,” jawab Tiara, mengelak.
“Nggak
perlu ditutupin, gue bisa baca muka lo, kalau lo itu marah sama gue.” Tantri
masih tak mau kalah.
Tiara
menghela napas. “Iya gue marah sama lo,” jawabnya jujur. Ia menekuk wajahnya.
“Alasannya?”
“Karna
gue kesal kak. Semua orang mulai dari Nyak, Babe, sampe teman sekelas gue
selalu bilang kalau lo itu hero,
sedangkan gue cuma anak manja yang nggak bisa apa-apa,” jawab Tiara dengan mata
berkaca-kaca.
“Astaghfirullah.
Ya ampun Tiara.” Tantri terhenyak mendengar kata-kata barusan.
“Tapi
betul kan kak. Dari kecil, kalau ada teman yang jahat sama gue, yang jadi hero itu siapa? Lo kan. Yang suka antar
jemput gue siapa? Lo juga kan. Terus gue bisanya apa kak? Gue bisanya nangis,”
ucap Tiara. Suaranya kini terdengar serak.
Tantri
menatap Tiara lekat-lekat. “Hey, nggak lo itu nggak manja. Buktinya lo bisa
belajar tanpa dibantu, itu kan juga mandiri. Tiara, lo juga bisa jadi hero, tapi bukan saat ini dan bukan
dengan jalan kerja kaya gue. Tapi lo bisa jadi hero buat masa depan kita,” ucap Tantri dengan mata berkaca-kaca.
Ia memeluk adiknya tersebut. “Jangan nangis, calon hero harus kuat,” bisiknya.
Tiara
mengangguk semangat. “Iya kak, makasi atas supportnya.
Maaf gue dari semalam ngambek kaya tadi. Janji deh, besok nggak akan begitu
lagi,” ucapnya ceria. Ia mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda minta
maaf.
Tantri
pun membalasnya dengan jari yang sama. “Yaudah masuk gih sana. Udah telat tuh.
Inget ye, kalau kakaknya hero, pasti
adiknya juga bisa jadi hero. Tapi
ingat, tetap harus rajin belajar.” Tantri menyemangati.
“Siap
kakak hero,” jawab Tiara, semangat.
Gadis
itu pun bergegas menuju sekolah. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada gadis
tomboy itu. “Hari ini ia mendapatkan pelajaran baru, bahwa seorang hero tidak boleh manja, seorang hero harus selalu semangat, dan seorang hero siap memegang tanggung jawab,”
tuturnya dalam hati.
Langganan:
Postingan (Atom)